Minggu, 12 Oktober 2014

Pikiran Itu Menganggu

Aku hanya manusia biasa, kamu pun demikian. Tak luput otak ini terkadang memikirkan hal-hal yang entah akan berakhir seperti apa. Pikiran negatif maupun positif, tapi.. ketakutan dalam diri dan perasaan yang akhirnya menciptakan pikiran-pikiran negatif dalam otak ini. Lantas haruskah pikiran itu tetap tinggal dan berdiam dalam diri ini? Tidak, itu hanya menganggu keyakinan dalam diri yang telah tercipta, itu hanya membuang waktu untuk memikirkan ketakutan-ketakutan yang tak terjawab. Akankah diri ini menyerah dengan mudahnya terhadap pikiran itu? Merubah keyakinan yang ada menjadi sebuah keraguan yang akan menyiksa diri sendiri? .
Hidup ini terdiri dari tiga masa yang akan selalu terikat dengan diri ini, masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Terkadang ketakutan muncul dalam pikiran dan perasaan ketika timbul pertanyaan untuk sebuah masa yang akan datang. Tak hanya masa yang akan datang, masa lalu pun kerap menjadi hantu yang menganggu pikiran dan keyakinan dalam diri. Lantas dengan cara apa diri ini terlepas dari ketakutan yang menganggu? Dalam setiap diri seseorang terdapat energi positif dan negatif, besar kecilnya energi dalam diri seseorang hanya dapat ditentukan oleh dirinya sendiri. Jika tetap terlelap dengan ketakutan, terbuai dengan keraguan, pikiran-pikiran negatif itu pun tetap akan singgah dengan indah dalam otak. Sedangkan jika energi positif dalam diri dapat tersinergikan dengan baik, maka semua itu akan hilang dan keyakinan dalam diri yang tercipta tak akan pernah pudar tergantikan oleh keraguan. Jangan pernah biarkan diri terlelap dengan buaian ketakutan, pertanyaan-pertanyaan di masa yang akan datang, yang pada akhirnya hanya akan menganggu pikiran dan membuang waktu.

Jumat, 15 Agustus 2014

Hati atau Pikiran

Ketika pikiran dan hati tidak dapat bersatu menentukan pilihan, manakah yang harus diikuti?
Pikiran cenderung menggunakan logika, sebab-akibat apa yang akan terjadi ketika kita memutuskan atau menentukan sebuah pilihan. Iya, logika diperlukan dalam kehidupan ini untuk membantu diri kita mencerna pemikiran-pemikiran dan hal-hal apa yang akan terjadi. Hati cenderung menggunakan bagaimana perasaan dalam diri kita. Antara keduanya logika dan perasaan terdapat perbedaan yang menonjol, logika yang diwakilkan oleh pikiran sedangkan perasaan diwakilkan oleh hati.
Sulit untuk disatukan antara keduanya, terkadang sebagai seorang wanita perasaanlah yang lebih diutamakan. Wanita yang mengutamakan logika termasuk dalam kaum minoritas sepertinya. Mengapa demikian? Karna wanita dilahirkan dengan kodrat yang memiliki perasaan yang begitu kuat, dari mengandung hingga melahirkan bahkan menyusui, perasaan sangatlah ditonjolkan dan diperlukan di dalamnya. Bagaimana dengan pria? Pria lebih mengutamakan logikanya, melihat hal-hal secara rasional dan selalu mempergunakan logika di setiap analisanya.
Akan tetapi, bagaimana jika hati dan pikiran ini berbeda pandangan? jika perasaan dan logika ini tak sama dan berselisih? Menurut saya, jika hati dan pikiran dilanda kebimbangan karna tak dapat menemukan jalan yang sama, lebih baik kita bertanya kepada hati kita. Kenapa kembali pada hati (perasaan)? iya karna hati tidak akan berbohong, karna hati tak perlu selalu mencari logika dalam setiap alasan, karna hati lah yang pada dasarnya menuntun kita. Hati (perasaan) adalah penyeimbang, jawaban di kala bimbanh itu datang menghampiri. Karna baik pria maupun wanita pada dasarnya mempunyai hati (perasaan).

Minggu, 10 Agustus 2014

Hidup Itu Perjuangan

Terlalu dini mungkin bagiku berbicara mengenai arti hidup, masih secuil pengalaman yang aku dapat dalam kehidupan ini. Akan tetapi, ingin rasanya aku menulis sebuah tulisan mengenai kehidupan ini. Bagiku, kehidupan itu memerlukan perjuangan yang keras, mengapa ? Karna apapun yang kita inginkan memerlukan sebuah usaha bahkan perjuangan.
Hidup adalah anugerah Tuhan untuk kita, selayaknya kita memperjuangkan anugerah yang telah diberiNya kepada kita. Kita ingin bahagia, kita perlu berjuang melawan rasa sedih yang kita rasakan. Kita ingin sukses, kita perlu berjuang meraih kesuksesan itu. Apapun itu perlu perjuangan yang keras.
Terkadang, kerasnya perjuangan yang harus dilakukan menyebabkan sebagian dari kita merasa putus asa, tidak berguna, bahkan depresi. Itu hal konyol bagiku, karena jelas tersirat bahwa hidup adalah tanggung jawab besar yang kita pikul. Hidup adalah cara bagaimana kita berjuang untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, bagaimana kita berjuang untuk selalu hidup seimbang, bagaimana kita berjuang untuk suatu ilmu yang dicapai, dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan lainnya yang tidak mampu satu per satu  dituangkan dalam tulisan.
Bagiku, perjuangan dalam hidup tidak hanya sekedar materi, status sosial atau apalah itu, melainkan juga bagaimana kita berjuang mempertahankan apa yang telah kita dapatkan dengan usaha yang keras. Mungkin kata perjuangan cukup 'wow' untuk diucapkan, akan tetapi itulah kenyataan bahwa perjuangan tak pernah lepas dari hidup yang kita jalani. Berawal dari usia remaja hingga kelak ajal akan menjemput, hidup adalah perjuangan.